Rabu, 23 November 2016

BELAJAR TERUS MENELAAH TANPA HARUS TERUS BERTANYA


Kisah mereka dimulai dalam tinta hitam pada kain gasa yang memiliki tekstur sangat halus seperti nurani yang tercipta dalam setiap karakternya. Rangka kasa peran yang begitu kuat kokoh laksamana frame yang akan mereka rajah nan menjadi sebuah karya. Disela desau angin yang mengabah, nurani menembang diujung rasa dengan taburan idea mereka. Kebersamaan adalah koleksi yang tak terhitung dari singularitas. Mereka menapak tilas kepada diri mereka sendiri. Belajar terus menelaah tanpa harus terus bertanya.

Kereta Bengawan Purwosari, 03 November 2016


Foto : Dediadriyan
Naskah : Wildness

Jumat, 18 November 2016

ISTIMEWAH DAN BERSINAR

Ini adalah kisah tentang Edutrip Java Island di 2 kota yang kata orang selalu menyisakan rindu setelah menjejakan kaki disana. Terkait hal tersebut sudah lama saya bersemangat ini membuktikan kebenarannya, dan kesempatan itupun akhirnya hadir.
3 November 2016, sekitar kurang lebih pukul 10 pagi saya sudah tiba di Stasiun Pasar Senin Jakarta Pusat, 2 jam lebih awal sebelum keberangkatan kereta bengawan tujuan Purwosari Jawa Tengah. Semangat itu sepertinya sudah mengalir menjadi sebuah gerak, setelah berdiskusi sebelum keberangkatan sambil menunggu beberapa waktu dan akhirnya yap.. saya akan pergi dalam sebuah perjalanan yang tidak sekedar kreasi atau penghancur penat belaka.


Edutrip adalah sebuah perjalanan yang akan menambah pengalaman untuk dapat diterapkan ke dalam hidup, untuk hidup yang lebih baik. Perjalanan ini di gagas oleh teman-teman dari Java Island yang memang selama ini begitu giat dalam memberikan sebentuk kenyataan tentang menciptakan hidup yang lebih baik.
Perjalanan siang itu dimulai dengan doa serta puluhan  kepal semangat. Perjalanan kami menuju Klaten.

Terang terlihat menghilang berganti dengan dingin malam bersamaan dengan tibanya kami yang di sambut dengan suara ramai penduduk kota dengan kegiatan yang seketika membuat saya kagum dengan gemerlapnya kota Istimewa yang Bersinar. Lelah kami seolah dibayar lunas setelah sambutan hangat jabat dan peluk disertai mimik muka dengan rasa rindu dari 2 teman kami yang telah siap menjemput kami menuju lokasi edutrip. Malam semakin larut dan mereka memberi kami hadiah yang tak begitu mewah tapi memberi kepuasan tersendiri sekaligus mengenal budaya yang perlu di lestarikan, sebut saja Angkringan. Wow sepertinya perjalanan edutrip kami ini semakin seru, hehee.


Tak dipungkiri bahwa Kota Istimewa dan bersinar ini selalu membuat siapapun rindu untuk kembali. Rindu untuk bercerita tentang keetnikan dan keramahan yang bisa ditemukan di setiap sudut kota tersebut. Hal menarik yang tidak boleh dilewatkan ketika liburan ke Yogyakarta adalah angkringan. Mengapa? Sebab angkringan bukan sekadar warung pinggir jalan, melainkan sebuah budaya yang perlu dilestarikan. Angkringan entah bagaimana caranya telah membentuk wajah Kota Istimewa dan Bersinar di mata dunia. Siapapun yang datang ke Kota Istimewa dan Bersinar tersebut pasti ingin sekali mencoba angkringan. Angkringan juga dikenal sebagai warung sederhana yang menjajakkan makanan dengan harga super murah. Salah seorang sahabat kami mengambil satu bungkus nasi kucing dan beberapa lauk seperti sate telur puyuh, kepala ayam, dan sate usus. Dan pada akhirnya yang lainnyapun terprovokasi untuk ikut merasakan hidangan sekaligus budaya yang telah tersedia di depan mata. Lalu, kami pun sepakat untuk memesan tiga gelas es teh manis. Sembari menyantap nasi dan lauk yang telah dibeli, sesekali kami menyeruput es teh manis itu perlahan. Makan di angkringan, meski terlihat sederhana, entah kenapa rasanya begitu nikmat. Hal itu mungkin dikarenakan oleh atmosfer dari Kota Istimewa dan bersinar ini yang sungguh bersahabat sehingga kami pun merasa nyaman dan selalu rindu untuk kembali. Sudah menjadi ciri khas Kota Istimewa dan Bersinar yang tenang ini memberi teduh bagi telinga kami sampai-sampai tubuh kami seperti mencipta imun bagi dingin malam yang menusuk.

Mata yang masih mengantuk seolah berbanding terbalik dengan semangat yang tercipta kala pagi menyambut kami. Sentuhan hangat sang surya serta wangi makanan khas pagi kota ini membuat kami bangun lalu bergerak berburu untuk memberi indraprasa di pagi yang penuh kelembutan dan keramahtamahan.


Sego Gudang adalah salah satu makanan yang menjadi warisan Kuliner Nusantara Nama ini mungkin masih asing bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. Sego Gudang memang tidak setenar Sego Liwet atau Gudeg meski ketigannya dilahirkan di tanah yang saling berdekatan. Sego Gudang adalah makanan sehari - hari penduduk pedesaan di beberapa wilayah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Saya mengenal Sego Gudang sebagai makanan sarapan keluarga Poztrocktees yang tinggal di Kecamatan Wedi, Klaten. Dan saya langsung jatuh hati pada kenikmatannya semenjak beberapa hari lalu. Sego Gudang diracik dari aneka sayuran yang diiris halus, diberi bumbu parutan kelapa dan ditaburi kedelai goreng yang ditumbuk kasar. Berbeda dengan uraban dan terancam yang pedas, parutan kelapa untuk Sego Gudang didominasi rasa bawang putih dan kencur yang dipercaya menaikan nafsu makan. Sego Gudang hanya bisa dijumpai di pagi hari karena masyarakat setempat biasa menjadikannya bekal untuk dibawa ke sawah atau sebagai sarapan anak - anak sebelum berangkat sekolah. Makanan yang terdiri nasi putih dengan aneka sayuran yang diracik dengan bumbu-bumbu desa seperti daun pepaya, tauge, kecambah, kobis, wortel, daun kemangi, kacang panjang dan dikolaborasikan dengan ikan asin, gorengan, kerupuk karak, dan lainya ini selalu membuat lidah saya tercandu ingin merasakannya setiap saat. Sego Gudang juga dikenal sebagia dengan nama Gudangan karena kerap dijual terpisah dengan nasi. Meski kental dengan kearifan lokal setempat, namun Sego Gudang sudah semakin jarang di jumpai. Dahulu kala selain untuk sarapan Sego Gudang juga banyak digunakan sebagai pelengkap beberapa upacara tradisi seperti syukuran kelahiran bayi hingga sadranan. Kini selain hanya dijual di pagi hari, orang yang merawat warisan kuliner inipun tak banyak lagi. Hanya beberapa orang tua di desa - desa tertentu di Klaten yang masih setia menjual Sego Gudang. Merekapun umumnya hanya berjualan dirumah. Beruntung masih ada masyarakat setempat, meski tidak banyak yang masih setia menyantap Sego Gudang semoga mereka bukan pembuat dan penikmat Sego Gudang terakhir.

Kegiatan kita berikutnya adalah mengenal lebih jauh sebuah sablonase yang menurut saya sangat begitu menggerakan tentang pentingnya berdiri sendiri tanpa sedikit celoteh orang lain, karena pada dasarnya manusia itu mempunyai kemampuan masing - masing yang mampu di apresiasikan melalui hidup bersosialnya. Mengapa saya menggunakan istilah 'begitu menggerakan'?. Karena pada kenyataannya mereka memang tak sekedar memberi kesadaran tapi memang menggerakan, mereka memberi bukti melalui tata cara hidup yang berusaha tak sedikitpun digerakan orang lain. Poztrockteez ini juga seperti keluarga, sebut mereka keluarga (Kreazer Kidd "Orang Gila Berkarya Indonesia").
Di rumah sekaligus markas Poztrocktess kedatangan kami disambut hangat oleh keluarga Kreazer Kidd Poztrocktees. Sapa serta senyum ikhlasnya dengan sikap penuh kerahmahtamahan dan terbuka yang membuat saya menganggap seperti keluarga saya sendiri sejak awal pertemuan. Poztrocktess berdiri sudah cukup lama setelah sang pemeran (Mas Plint) utama berhenti dari aktifitas bulananya, tepatnya sekitar kurang lebih 10 tahun yang lalu. Rumah sekaligus markas ini mengajarkan banyak hal tentang sablonase. Seperti yang terlihat pada gambar, ini adalah gudang bahan t-shirt rumah sekaligus markas Poztrocktees. Gambaran berikut adalah proses pemotongan bahan yang mana akan di sablon lalu di di jahit atau sebaliknya. Disini kami mengenal secara detail bahan - bahan t-shirt dari memilah, membedakan, kekuatan bahan serta kualitas bahan.


Berikut setelah memotong dan mengukur bahan kami sedikit berbelanja peralatan sablonase karena terhubung kami datang dengan tangan kosong, seperti tinta sablon, screen sablon, Rakel, dan lainnya. Proses berikutnya adalah mengafdruk gambar atau membuat film pada screen dan di keringkan melalui sinar matahari karena saya mengerjakanya pada siang hari kala itu hanya memerlukan beberapa detik saja berbeda jika menggunakan Hairdryer yang memerlukan waktu sedikit lama. Setelah selesai dikeringkan film atau afdrukan mulai membuat campuran tinta sesuai warna yang akan dibuat di kaos, mencampur tinta pun ada triknya yang tentunya sangat rahasia supaya hasil dari campuran menempel awet di t-shirt tersebut. Selesai dicampur bisa mulai di cetak. Sablon yang kami kerjakan adalah sablon manual.


Photo Created Mas Plint


Kami benar-benar tak sekedar disadarkan tetapi juga seolah digerakan untuk bisa menerapkan gaya hidup yang lebih berusaha, seperti mengapreasiasikan kemampuan dan lebih kreatif. Pikiran kami menjadi terbuka tentang berwirausaha.
Keluarga Kreazer Kidd “Orang Gila Berkarya Indonesia” selalu menekankan, apa yang kita lakukan akan berdampak pada diri kita sendiri, “Seperti yang sedang saya jalani saat ini” ujar Mas Plint Pimpinan Poztrocktees. Kami sungguh bersyukur bisa bertemu keluarga ini dan mendapatkan pelajaran yang begitu berharga.

Selepas mendapatkan pelajaran berharga dari keluarga Kreazer Kidd “Orang Gila Berkarya Indonesia”, perjalanan kami dilanjutkan dengan bersantai dan berburu senja di Pantai Ngrumput. Perjalanan yang akan di tempuh kurang lebih melahap waktu 60 menit.
Pantai Ngrumput terkenal dengan Kosakoranya disana, namun ternyata Pantai ini menyajikan sebuah kejutan yang asyik dan tak terlupakan. Pantai Ngrumput menghadiahi kami senja yang indah dan pesona alam lautan dan bukit yang berpadu begitu apik.


Photo Created Mas Plint


Ada cerita baru di setiap perjalanan..
Perjalanan kali ini adalah perjalanan yang menurut saya membawa saya untuk membawa Perubahan yang di mulai dari diri sendiri dan akan di tularkan kepada orang lain. Perjalanan yang membuat saya berkeinginan untuk mencoba lebih menghargai dan mencintai alam yang begitu indah ini. Tak terkecuali, lebih penting mencintai Sang Maha Pencipta yang telah menghadiahkan saya untuk dapat menikmati apa yang telah di ciptakanNya ini.
Kami sungguh menikmati senja yang tersaji disana, telingga juga dimanjakan suara deburan ombak yang mengalun lembut, dan mata dijejali panorama alam yang indah.
Edutrip dari Java Island ini tak sekedar sebuah perjalanan rekreasi penghancur penat semata, namun merupakan sebuah perjalanan pemberi panganan kepada isi kepala, perjalanan yang menambah jumlah sudut pandang, memupuk semangat untuk menerapkan hidup yang selaras dengan kepercayadirian.