Ini adalah
kisah tentang Edutrip Java Island di 2 kota yang kata orang selalu menyisakan
rindu setelah menjejakan kaki disana. Terkait hal tersebut sudah lama saya
bersemangat ini membuktikan kebenarannya, dan kesempatan itupun akhirnya hadir.
3 November
2016, sekitar kurang lebih pukul 10 pagi saya sudah tiba di Stasiun Pasar Senin
Jakarta Pusat, 2 jam lebih awal sebelum keberangkatan kereta bengawan tujuan
Purwosari Jawa Tengah. Semangat itu sepertinya sudah mengalir menjadi sebuah
gerak, setelah berdiskusi sebelum keberangkatan sambil menunggu beberapa waktu
dan akhirnya yap.. saya akan pergi dalam sebuah perjalanan yang tidak sekedar
kreasi atau penghancur penat belaka.
Edutrip adalah
sebuah perjalanan yang akan menambah pengalaman untuk dapat diterapkan ke dalam
hidup, untuk hidup yang lebih baik. Perjalanan ini di gagas oleh teman-teman
dari Java Island yang memang selama ini begitu giat dalam memberikan sebentuk
kenyataan tentang menciptakan hidup yang lebih baik.
Perjalanan
siang itu dimulai dengan doa serta puluhan kepal semangat. Perjalanan
kami menuju Klaten.
Terang terlihat
menghilang berganti dengan dingin malam bersamaan dengan tibanya kami yang di
sambut dengan suara ramai penduduk kota dengan kegiatan yang seketika membuat
saya kagum dengan gemerlapnya kota Istimewa yang Bersinar. Lelah kami seolah
dibayar lunas setelah sambutan hangat jabat dan peluk disertai mimik muka
dengan rasa rindu dari 2 teman kami yang telah siap menjemput kami menuju lokasi
edutrip. Malam semakin larut dan mereka memberi kami hadiah yang tak begitu
mewah tapi memberi kepuasan tersendiri sekaligus mengenal budaya yang perlu di
lestarikan, sebut saja Angkringan. Wow sepertinya perjalanan edutrip kami ini
semakin seru, hehee.
Tak dipungkiri
bahwa Kota Istimewa dan bersinar ini selalu membuat siapapun rindu untuk
kembali. Rindu untuk bercerita tentang keetnikan dan keramahan yang bisa
ditemukan di setiap sudut kota tersebut. Hal menarik yang tidak boleh
dilewatkan ketika liburan ke Yogyakarta adalah angkringan. Mengapa? Sebab
angkringan bukan sekadar warung pinggir jalan, melainkan sebuah budaya yang
perlu dilestarikan. Angkringan entah bagaimana caranya telah membentuk
wajah Kota Istimewa dan Bersinar di mata dunia. Siapapun yang datang ke Kota
Istimewa dan Bersinar tersebut pasti ingin sekali mencoba angkringan. Angkringan
juga dikenal sebagai warung sederhana yang menjajakkan makanan dengan harga
super murah. Salah seorang sahabat kami mengambil satu bungkus nasi kucing dan
beberapa lauk seperti sate telur puyuh, kepala ayam, dan sate usus. Dan pada
akhirnya yang lainnyapun terprovokasi untuk ikut merasakan hidangan sekaligus
budaya yang telah tersedia di depan mata. Lalu, kami pun sepakat untuk memesan
tiga gelas es teh manis. Sembari menyantap nasi dan lauk yang telah dibeli,
sesekali kami menyeruput es teh manis itu perlahan. Makan di angkringan, meski
terlihat sederhana, entah kenapa rasanya begitu nikmat. Hal itu mungkin
dikarenakan oleh atmosfer dari Kota Istimewa dan bersinar ini yang sungguh
bersahabat sehingga kami pun merasa nyaman dan selalu rindu untuk kembali. Sudah
menjadi ciri khas Kota Istimewa dan Bersinar yang tenang ini memberi teduh
bagi telinga kami sampai-sampai tubuh kami seperti mencipta imun bagi dingin
malam yang menusuk.
Mata yang masih
mengantuk seolah berbanding terbalik dengan semangat yang tercipta kala pagi
menyambut kami. Sentuhan hangat sang surya serta wangi makanan khas pagi kota
ini membuat kami bangun lalu bergerak berburu untuk memberi indraprasa di pagi
yang penuh kelembutan dan keramahtamahan.
Sego Gudang
adalah salah satu makanan yang menjadi warisan Kuliner Nusantara Nama ini
mungkin masih asing bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. Sego Gudang memang
tidak setenar Sego Liwet atau Gudeg meski ketigannya dilahirkan di tanah yang
saling berdekatan. Sego Gudang adalah makanan sehari - hari penduduk pedesaan
di beberapa wilayah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Saya mengenal Sego Gudang
sebagai makanan sarapan keluarga Poztrocktees yang tinggal di Kecamatan Wedi,
Klaten. Dan saya langsung jatuh hati pada kenikmatannya semenjak beberapa hari
lalu. Sego Gudang diracik dari aneka sayuran yang diiris halus, diberi bumbu
parutan kelapa dan ditaburi kedelai goreng yang ditumbuk kasar. Berbeda dengan
uraban dan terancam yang pedas, parutan kelapa untuk Sego Gudang didominasi
rasa bawang putih dan kencur yang dipercaya menaikan nafsu makan. Sego Gudang
hanya bisa dijumpai di pagi hari karena masyarakat setempat biasa menjadikannya
bekal untuk dibawa ke sawah atau sebagai sarapan anak - anak sebelum berangkat
sekolah. Makanan yang terdiri nasi putih dengan aneka sayuran yang diracik
dengan bumbu-bumbu desa seperti daun pepaya, tauge, kecambah, kobis, wortel, daun
kemangi, kacang panjang dan dikolaborasikan dengan ikan asin, gorengan, kerupuk
karak, dan lainya ini selalu membuat lidah saya tercandu ingin merasakannya
setiap saat. Sego Gudang juga dikenal sebagia dengan nama Gudangan karena kerap
dijual terpisah dengan nasi. Meski kental dengan kearifan lokal setempat, namun
Sego Gudang sudah semakin jarang di jumpai. Dahulu kala selain untuk sarapan
Sego Gudang juga banyak digunakan sebagai pelengkap beberapa upacara tradisi
seperti syukuran kelahiran bayi hingga sadranan. Kini selain hanya dijual di
pagi hari, orang yang merawat warisan kuliner inipun tak banyak lagi. Hanya
beberapa orang tua di desa - desa tertentu di Klaten yang masih setia menjual
Sego Gudang. Merekapun umumnya hanya berjualan dirumah. Beruntung masih ada
masyarakat setempat, meski tidak banyak yang masih setia menyantap Sego Gudang
semoga mereka bukan pembuat dan penikmat Sego Gudang terakhir.
Kegiatan kita
berikutnya adalah mengenal lebih jauh sebuah sablonase yang menurut saya
sangat begitu menggerakan tentang pentingnya berdiri
sendiri tanpa sedikit celoteh orang lain, karena pada dasarnya manusia
itu mempunyai kemampuan masing - masing yang mampu di apresiasikan melalui hidup
bersosialnya. Mengapa saya menggunakan istilah 'begitu menggerakan'?. Karena
pada kenyataannya mereka memang tak sekedar memberi kesadaran tapi memang
menggerakan, mereka memberi bukti melalui tata cara hidup yang berusaha tak
sedikitpun digerakan orang lain. Poztrockteez ini juga seperti keluarga, sebut
mereka keluarga (Kreazer Kidd "Orang Gila Berkarya Indonesia").
Di rumah sekaligus markas Poztrocktess kedatangan kami disambut hangat oleh keluarga Kreazer Kidd Poztrocktees. Sapa serta senyum ikhlasnya dengan sikap penuh kerahmahtamahan dan terbuka yang membuat saya menganggap seperti keluarga saya sendiri sejak awal pertemuan. Poztrocktess berdiri sudah cukup lama setelah sang pemeran (Mas Plint) utama berhenti dari aktifitas bulananya, tepatnya sekitar kurang lebih 10 tahun yang lalu. Rumah sekaligus markas ini mengajarkan banyak hal tentang sablonase. Seperti yang
terlihat pada gambar, ini adalah gudang bahan t-shirt rumah sekaligus markas
Poztrocktees. Gambaran berikut adalah proses pemotongan bahan yang mana akan di
sablon lalu di di jahit atau sebaliknya. Disini kami mengenal secara detail bahan - bahan t-shirt
dari memilah, membedakan, kekuatan bahan serta kualitas bahan.
Berikut setelah memotong dan mengukur bahan kami sedikit berbelanja peralatan sablonase karena terhubung kami datang dengan tangan kosong, seperti tinta sablon, screen sablon, Rakel, dan lainnya. Proses berikutnya adalah mengafdruk gambar atau membuat film pada screen dan di keringkan melalui sinar matahari karena saya mengerjakanya pada siang hari kala itu hanya memerlukan beberapa detik saja berbeda jika menggunakan Hairdryer yang memerlukan waktu sedikit lama. Setelah selesai dikeringkan film atau afdrukan mulai membuat campuran tinta sesuai warna yang akan dibuat di kaos, mencampur tinta pun ada triknya yang tentunya sangat rahasia supaya hasil dari campuran menempel awet di t-shirt tersebut. Selesai dicampur bisa mulai di cetak. Sablon yang kami kerjakan adalah sablon manual.
Photo Created Mas Plint
Kami benar-benar tak sekedar disadarkan tetapi juga seolah digerakan untuk bisa menerapkan gaya hidup yang lebih berusaha, seperti mengapreasiasikan kemampuan dan lebih kreatif. Pikiran kami menjadi terbuka tentang berwirausaha.
Photo Created Mas Plint
Kami benar-benar tak sekedar disadarkan tetapi juga seolah digerakan untuk bisa menerapkan gaya hidup yang lebih berusaha, seperti mengapreasiasikan kemampuan dan lebih kreatif. Pikiran kami menjadi terbuka tentang berwirausaha.
Keluarga
Kreazer Kidd “Orang Gila Berkarya Indonesia” selalu menekankan, apa yang kita
lakukan akan berdampak pada diri kita sendiri, “Seperti yang sedang saya jalani
saat ini” ujar Mas Plint Pimpinan Poztrocktees. Kami sungguh bersyukur bisa
bertemu keluarga ini dan mendapatkan pelajaran yang begitu berharga.
Selepas
mendapatkan pelajaran berharga dari keluarga Kreazer Kidd “Orang Gila Berkarya
Indonesia”, perjalanan kami dilanjutkan dengan bersantai dan berburu senja di
Pantai Ngrumput. Perjalanan yang akan di tempuh kurang lebih melahap waktu 60
menit.
Pantai Ngrumput
terkenal dengan Kosakoranya disana, namun ternyata Pantai ini menyajikan sebuah
kejutan yang asyik dan tak terlupakan. Pantai Ngrumput menghadiahi kami senja
yang indah dan pesona alam lautan dan bukit yang berpadu begitu apik.
Photo Created Mas Plint
Photo Created Mas Plint
Ada cerita baru di setiap perjalanan..
Perjalanan kali ini adalah perjalanan yang menurut saya membawa saya untuk membawa Perubahan yang di mulai dari diri sendiri dan akan di tularkan kepada orang lain. Perjalanan yang membuat saya berkeinginan untuk mencoba lebih menghargai dan mencintai alam yang begitu indah ini. Tak terkecuali, lebih penting mencintai Sang Maha Pencipta yang telah menghadiahkan saya untuk dapat menikmati apa yang telah di ciptakanNya ini.
Kami sungguh menikmati senja yang tersaji disana, telingga juga dimanjakan suara deburan ombak yang mengalun lembut, dan mata dijejali panorama alam yang indah.
Perjalanan kali ini adalah perjalanan yang menurut saya membawa saya untuk membawa Perubahan yang di mulai dari diri sendiri dan akan di tularkan kepada orang lain. Perjalanan yang membuat saya berkeinginan untuk mencoba lebih menghargai dan mencintai alam yang begitu indah ini. Tak terkecuali, lebih penting mencintai Sang Maha Pencipta yang telah menghadiahkan saya untuk dapat menikmati apa yang telah di ciptakanNya ini.
Kami sungguh menikmati senja yang tersaji disana, telingga juga dimanjakan suara deburan ombak yang mengalun lembut, dan mata dijejali panorama alam yang indah.
Edutrip dari
Java Island ini tak sekedar sebuah perjalanan rekreasi penghancur penat semata,
namun merupakan sebuah perjalanan pemberi panganan kepada isi kepala, perjalanan
yang menambah jumlah sudut pandang, memupuk semangat untuk menerapkan hidup
yang selaras dengan kepercayadirian.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar